Social Media Tano Batak

Facebook  Path

Cerita Minar Sihite Didatangi Arwah Sebelum Temukan Aek Soda


Cerita Minar Sihite Didatangi Arwah Sebelum Temukan Aek Soda

Laurencius Simanjuntak | Sabtu, 12 November 2016 12:11:49
Minar Sihite di kolam pemandian Aek Soda miliknya/batakgaul
Pada mulanya adalah cinta kasih pada mertua. Bersama suami dan satu anaknya, Minar Sihite  akhirnya memutuskan pulang kampung ke Tarutung, Tapanuli Utara, untuk merawat sang mertua. 
Kala itu, 1965, mertua Minar yang tinggal di Jakarta menang sudah uzur. Usianya 90 tahun.
“Dia biang 'aku nanti meninggal di kampung, pulanglah kalian’. Tapi tidak ada (anaknya) yang mau pulang,” kenang Minar saat berbincang kepada batakgaul.com belum lama ini.
Dari delapan anak si ompung yang semuanya tinggal di Jawa, hanya Minar dan suaminya yang bersedia pulang. 
“Kasihanlah aku nengok mertua,” ujar Minar yang kala itu berusia 29 tahun.
Karena cinta kasih itu pula, Minar akhirnya memutuskan meninggalkan tugasnya sebagai bidan di Jakarta dan membuka praktik klinik bersalin di Tarutung.
"Itulah Tuhan yang suruh, 'pulanglah kau ke desamu'. Pulanglah kita ke desa, kita kontrakan saja rumah ini, kubilanglah begitu sama bapak,” cerita Minar.


Minar Sihite di kantin miliknya di atas kolam pemandian Aek Soda/batakgaul

Singkat cerita, setelah delapan tahun menetap di kampung, Minar tak sengaja jalan-jalan sebuah tempat angker di Desa Parbubu I, Tarutung, yang sekarang ramai dikunjungi banyak wisatawan karena terdapat pemadian air soda (aek soda).
“Dulu ini lebat dan angker, tidak ada yang berani mengelola,” ujar Minar sambil menunjuk ke arah kolam yang dipenuhi banyak orang berenang.
Sampai suatu saat, Minar memberanikan diri untuk mencicipi airnya. “Lho kok ada air soda,” kata Minar kaget saat itu. 
Setelah positif bahwa memang ada air soda di tempat air itu, Minar berdoa kepada Tuhan. “Ciptaan-Mu ini Tuhan akan saya rawat jadi mata pencaharian saya sampai turunan saya,” doa Minar saat itu.
Setelah berdoa, ada juga bisikan dalam hati Minar agar dia memberikan sesuatu buat leluhur yang menunggu tempat tersebut.
“Kubuatlah 7 kepal Itak Gurgur di atas daun pisang. Kubilanglah, kalian yang tinggal di sini yang tidak saya kenal, mohon tempat ini ditinggalkan. Ciptaan Allah ini akan saya rawat jadi mata pencaharian saya,” ujar dia.
“Inilah penghormatan saya untuk kalian,” kata Minar sambil menaruh 7 kepal Itak Gurgur tersebut.
Pada malam harinya, Minar tidak menyangka didatangi arwah leluhur bermarga Tobing.
“Dia (arwah marga Tobing) sudah jauh di atas kami, sudah 14 generasi,” kata Minar.
Kepadanya, arwah itu mengatakan: "Bukalah tempat ini. Emas, intan, berlian ambilah dari dalam air. Tapi janji tidak boleh ngomong kotor di sini, tidak boleh telanjang biar anak kecil, tidak boleh bikin penginapan. Di sini harus hormat!
Setelah menuruti perjanjian itu, besoknya Minar langsung memanggil 4 orang bapak-bapak muda untuk membangun pemandian aek soda. Tepatnya tahun 1973.
“Jadi kalau baru-baru lihat, (pemandaian ini) kayak kubangan kerbaulah. Tidak nampak air, tapi ada air keluar,” katanya. 
“Kuambil dan kujualah batu dari sini dua truk, barulah banyak timbul mata air itu,” imbuh Minar.
Dia mengatakan, banyak khasiat dari air soda yang dikelolanya itu.  “Kalau hanya mandi, obat mandi, obat mata, obat gatal-gatal badan,” ujarnya.
Sedangkan kalau diminum, bisa untuk obat rematik, asam urat dan pengapuran.
“Tetapi jangan dimasak. Itu (hasil) pemeriksaan dokter dari bandung dan Yogya,” ujarnya.

Memalukan! Agus Tak Paham Visi Misinya Sendiri, Cagub Apaan Nih?

Memalukan! Agus Tak Paham Visi Misinya Sendiri

Penulis : Alifurrahman



Oke setelah makan dan memberi makan kucing yang ditinggal anaknya (ga penting ya?) mari kita lanjutkan bahasan lucu tentang Agus Yudhoyono anak SBY.


Sejak awal, sudah sangat jelas Agus kesulitan menjawab pertanyaan Najwa. Beberapa kali malah menjawab dengan balik bertanya, mungkin karena saking emosinya.

Jika pertanyaan menjebak atau menyudutkan seperti kalau bukan anak SBY apa bisa dicalonkan? Itu hanya pertanyaan hiburan. Tidak fundamental dan krusial bagi sistem politik Indonesia. Tapi kalau soal visi misi, saya dan semua rakyat Indonesia pasti sepakat bahwa itu bukan hal yang main-main. Harus jelas dan paham, bukan berfungai seperti teks yang dihafalkan sebelum masuk ujian. Namun sebelum membahas yang serius, mari saya ajak bahas yang lucu-lucu dulu, sebab ini saling berkaitan.

Najwa: biasanya kalau orang memilih calon pemimpin itu ada beberapa hal, salah satunya rekam jejak. Dan itulah yang saya ingin anda bercerita ke publik karwna banyak yang belum tau nih rekam jejak Agus. Misalnya Mas Agus, keputusan terbesar yang pernah anda ambil yang kemudian memiliki dampak ke publik. Bisa ceritakan ke kami?

Agus: ya ini keputusan terakhir ini. Saya pikir
Najwa: itu kan keputusan yang anda ambil pribadi, maksud saya keputusan yang anda ambil yang kemudian membawa dampak ke publik.

Bagian ini saya pikir Najwa yang gagal paham. Hahaha keputusan yang diambil Agus kan berdampak ke Demokrat? Hihi (sekali-kali boleh lah Pakar Mantan ikutan gagal paham). Oke lanjut…

Agus: keputusan dalam…?

Najwa: kapasitas anda selama ini

Agus: oh saya pikir banyak keputusan saya ambil. Tentu dalam konteks perjalanan karir saya sebagai perwira militer.

Najwa: apa misalnya Mas?

Agus: ya banyak sekali, saya tidak bisa jelaskan karena…

Najwa: satu aja kalo gitu

Agus: urusan TNI itu urusan negara yang kadang tidak bisa dijelaskan di ruang publik.

Nah kalau ini Pakar Mantan yang gagal paham. Benar TNI itu sangat dekat dengan rahasia negara. Jadi kadang mereka tak bisa banyak cerita. Namun rekam jejak, pengalaman, keputusan dan kepemimpinan saya pikir bukanlah rahasia negara. SBY saja sering bercerita tentang kehebatan-kehebatannya di masa lalu.

“Saat itu, kita menyumbang satu batalyon zeni, batalyon medis, pengamat militer serta kontingen dari kalangan sipil. Banyak perwira-perwira Indonesia baik dari TNI maupun Polti yang jumlahnya lulusan. Tapi mereka harus kembali ke Tanah Air karena tidak lulus bahasa Inggris dan tes mengemudi. Kita berikan pusat bahasa agar siapapun yang ikuti ujian akan lulus. Baik taktik militer, bahasa maupun mengemudi,” cerita SBY saat berpidato pada peresmian IPSC di Sentul, Jawa Barat. Cerita tersebut merupakan kejadian tahun 1995.

Kenapa Agus tidak bisa menceritakan rekam jejaknya? Tentang keputusan yang diambil dan memiliki dampak. Kemungkinannya dua, Agus tak punya pengalaman memimpin dan mengambil keputusan yang berdampak, karena semua dari atasan. Atau bisa juga karena Agus tidak paham pertanyaan Najwa. Muahahhaha.

Kalau soal anggaran, strategi militer dan sejenisnya itu memang sangat rahasia, tidak etis juga. Tapi kalau pengalaman yang sudah selesai seharusnya bukan lagi rahasia. Atau jangan-jangan ada banyak rahasia? Hihihi

Tapi saya pikir Agus tidak paham dengan pertanyaan Najwa. Karena setelah diberikan perbandingan antara Ahok yang jadi Gubernur, keputusannya berdampak pada 10 juta sekian penduduk. Atau Anies mantan menteri, keputusannya berdampak ke sekian orang.

“yang jelas saya banyak mengambil keputusan untuk menigkatkan profesionalisme prajurit yang saya pimpin, dan juga kesejahteraan keluarga prajurit. Yang itu semua berada di bawah komando dan kendali saya.

Tentu tidak bisa dibandingkan, tadi mengatakan sepuluh juta, kemudian sebagaia menteri, kemudian saya sebagai komandan batalion. 



Tetapi bagi saya yang paling penting adalah bukan skopnya saja, tapi prinsiplenya apa. Leadership prinsiple itu berlaku universal. 


Dan saya juga menggunakan banyak pengalaman yang saya dapatkan selama di TNI untuk bisa saya aplikasikan secara relevan di wilayah pengabdian yang lainnya” jelas Agus panjang kali lebar.

Najwa: oke berarti kalau saya tanya berapa besar anggaran yang pernah dikelola, juga anda akan menjawab hal yang sama? Itu tidak relevan?

Agus: ya, tidak relevan menurut saya

Najwa: tapi berapa banyak sih Mas Agus, pernah tidak mengelola anggaran dalam jumlah yang besar?

Agus: ya sekali lagi anggaran itu tentu dalam hubungan TNI. Itu sudah ditentukan setiap batalion itu berkisar, hampir sama di seluruh batalion. Tidak bisa saya jelaskan di sini.

Najwa: berarti tidak bisa dibandigkan dengan DKI 67 triliun, kemudian itu….sangat jauh ya?

Agus: oh…ya dong.

Najwa: berarti rekam jejaknya tidak bisa apple to aplle?
Agus tidak apple to apple

Kalau mendengar pernyataan ini saya pikir ada tiga kemungkinan. Pertama Agus malu menyebut angka yang mungkin hanya puluhan juta rupiah. Kedua, Agus takut nominal tersebut nanti bermasalah di kalangan TNI, entah karena terlalu besar atau terlalu kecil. Atau yang terakhir sebenarnya Agus tak pernah tau dan mengelola anggaran.

Najwa: berarti satu lagi, kalau tadi anda banyak cerita batalion itu berarti berapa banyak staf yang pernah dipimpin Mas Agus?

Agus: shaha saya tau arahnya adalah apakah saya mampu untuk menghadapi ini semua? Langsung nanya gitu aja mbak, Ehe ya kan? Muter-muter dia haha muter muter muter

Najwa: yang saya tanya rekam jejak berdasarkan itu

Agus: betul, jadi begini saja, saya tau pertanyaannya adalah apakah saya mampu, masih muda dianggapnya pengalaman belum banyak, nol mungkin di bidang politik. Tapi begini, saya memberikan keyakinan bahwa kepemimpinan itu yang penting adalah goodwill dan juga sincerity. Tidak sedikit generasi muda….

Najwa: tapi menilai goodwill dan sincerity tentunya dari rekam jejak. Karenanya pertanyaan-pertanyaan itu saya ajukan
Agus: tidak sedikit generasi muda yang mendapatkan kesempatan untuk memimpin dan sukses. Kita lihat semua orang punya start nol. Ada titik startnya. Berarti berawal dari garis nol, begitu.

Hoaaaamz…..ini yang muter-muter siapa sebenarnya? Haloooo tukang odong-odong, tolong minta mesin yang lambang mercy biar sedikit kencang puterannya. Hahahaha

Najwa: pertanyaan saya sederhana sebetulnya, berapa banyak staf yang pernah dipimpin?
Agus: staf saya ada 20
Najwa: 20 orang, baik kita akan break….



Ngahahahaha okelah, mari kita masuk ke bahasan yang lebih serius.

Agus tak paham visi misinya sendiri

Agus yang sejak awal hanya memberikan jawaban muter-muter, di segmen akhir sempat berkembang menjadi jawaban-jawaban teori ngambang. Seperti soal gap ekonomi yang terlalu tinggi, memberi tambahan skil agar bisa berkompetisi. Kita harus peduli bla bla bla.

Saat ditanya apakah itu belum berjalan sekarang atau sudah berjalan tapi belum optimal. Jawabnya belum optimal. Namun setelah ditanya apa langkah-langkah yang akan diambil?

“Tentu tidak bisa saya bongkar di sini satu persatu”

Menariknya, kalimat tersebut seperti menjadi kalimat sakti untuk menjawab pertanyaan Najwa selanjutnya.

Najwa: meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana transportasi publik yang terpadu dan andal. Ini program aksi Mas, aksinya di mana Mas?
Agus: kenapa?
Najwa: aksinya spesifiknya akan seperti apa?
Agus: kita lihat bahwa memang penduduk Jakarta ini kan makin lama makin bertambah. Kita tidak bisa mencegah urbanisasi begitu saja. Tapi perlu semakin kita revitalisasi sarana dan prasarana transportasi kita . Apa yang sudah ada kita perkuat kita berdayakan. Tetapi juga kita tau bahwa jumlahnya pun mungkin masih kurang, begitu ya. Untuk bisa mengakomodasi seluruh kepentingan warga Jakarta. Nah inilah yang nanti kita perkuat, terutama bagaimana menciptakan…
Najwa: apa misalnya, menambah…kongkritnya menambah apa?
Agus: transportation hub itu juga harus diperkuat. Sehigga waktu tempuh seseorang menuju ke lokas pekerjaan itu semakin berkurang. Saat ini rata-rata penduduk menghabiskan bisa mencapai 30% dari pendapatannya untuk transportasi. Dan juga berpengaruh terhadap waktu yang terbuang di perjalanan. Tentu kita berupaya untuk menurunkan waktu tempuh tersebut dan akhirnya menjadi lebih produktif
Najwa: dengan cara?
Agus: ya dengan menambah transportasi umum, meningkatkan kualitasnya, kemudian kemudahan, aksesnya diperbanyak ke semua tempat. Dan juga lebih ramah untuk kaum difable. Dan semua tentunya dalam konsep terintegrasi dengan tata ruang yang ada di Jakarta.

Sampai di sini pembaca seword.com bisa paham? Atau ada yang bisa dipahami Agus mau ngapain? Ini kan program aksi, penjelasan, tapi sangat jelas Agus tidak memahaminya.

Apalagi saat Najwa bertanya apa program Ahok belum jalan atau yang akan spesifik berbeda? Lalu jawabannya sama seperti seminggu yang lalu saat Agus baru mendaftar ke KPU. “Pada saatnya saya akan menceritakan itu, sekarang belum masa kampanye. Tentu tidak elok bagi saya untuk menceritakan aksi secara langsung.”

“Tapi sudah ada?” Tanya Najwa
“Sudah dibicarakan.”

Ngahahahahahahahaa sudah dibicarakan ini maksudnya sudah bicara tapi belum selesai, dalam arti proses. Atau sudah selesai dibicarakan? Mbuh….mumet muter muter.

Tapi Najwa telaten bertanya “kalau soal ini Mas, soalnya ini kan sudah dipublish oleh KPU. Karenanya kemudian kami memperoleh ini. Soal bagaimana program aksi meningkatkan kualitas normalisasi bantaran saluran sungai waduk dan situ. Adakah rencana spesifik yang akan dijalankan?”
“Sama seperti jawaban saya di awal tadi, nanti pada saat masa kampanye. Kita bersabar dulu saya bisa akan menjelaskan secara lebih terelaborasi,” jawab Agus Yudhoyono.

Nghahahahahahahahhaa

Haduuuuh. Lucu sekali sistem politik Indonesia. Seorang calon Gubernur tidak paham soal aksi dari visi misinya.

Eh bukan lucu, tapi berbahaya. Ini tidak boleh ditiru. Seorang yang tidak paham apa-apa kemudian diajak jadi Gubernur, ini jelas kemunduran sistem demokrasi kita.

Saya tidak ingin maklum dengan Agus yang memang tidak memiliki pengalaman menjadi birokrat. Thats was another long story. Tapi ketika dia mencalonkan diri, seharusnya sudah tau apa saja yang akan dilakukan.

Tak perlu menjadi Cagub, saya saja kalau ditanya apa yang akan saya lakukan untuk mengatasi macet kalau memimpin Jakarta? pasti saya jawab dengan jelas akan menambah rute KRL agar. Menambah stasiun sampai terhubung ke seluruh pelosok Jakarta. Saling terhubung dengan MRT, Monorail dan KRL. Membangun stasiun di setiap lokasi wisata atau pusat belanja yang ramai pengunjung.

Subsidi bus yang bagus bus kota Kopaja, mengganti semua armadanya dengan bus baru yang sesuai standar kota modern. Subsidi semua sopir Kopaja untuk memastikan bus tidak ngetem dan membuat kemacetan.

Semua sistem pembayaran akan menggunakan kartu touch and go dan diletakkan di bus. Touch setiap naik dan turun. Akumulasi ongkos berdasarkan jarak tempuh.

Ehem ehem….sayangnya saya bukan anaknya SBY. Jadi tak sempat memukau Najwa Shihab.

Pada intinya begitu. Program aksi adalah contoh kongkrit yang akan dilaksanakan untuk menangani suatu masalah. Kalau jawabannya hanya menambah, merevitalisasi dan sebagainya, saya pikir itu tidak kongkrit dan hanya cocok dimasukkan dalam daftar rencana kebutuhan administratif. Tapi kalau ditanya apa aksinya? Harus dijawab dengan jelas.

Jika untuk setingkat DKI saja ada Cagub yang tak paham visi misinya sendiri, berarti di daerah lain pasti jumlahnya lebih banyak. Dengan begitu menjadi masuk akal kenapa negara ini tidak maju-maju, karena pemimpin daerahnya sepertinya banyak yang tidak tau akan melakukan apa baik sebelum dan setelah menjabat.

Saya pikir dengan hadirnya Agus semalam di Mata Najwa, seharusnya menjadi inspirasi bagi DPR untuk merevisi UU Pilgub DKI. Harus orang yang pernah memimpin daerah, sebab ini ibu kota. Kalau daerah lain mungkin skopnya bisa pimpinan perusahaan, pimpinan organisasi dan sebagainya.

Sebab kalau dibiarkan seperti ini terus, bisa-bisa mahasiswi program sarjana tataboga semester satu dimajukan sebagai Gubernur juga, bukankah syarat beratnya hanya asal ada partai pengusung?

Begitulah kura-kura.

Selengkapnya :
http://seword.com/politik/memalukan-agus-tak-paham-visi-misinya-sendiri/

Hasil Survey : Popularitas Ahok Nyaris 100%, Tak Terkalahkan, Makin Meroket!

Lembaga Populi Center merilis hasil survei terkait tingkat popularitas dan elektabilitas sejumlah tokoh. Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menempati posisi teratas dengan 95,8 persen. 

Menurut Peneliti Populi Center, Nona Evita, survei popularitas dan elektabilitas tersebut dilakukan mengingat pada 2017 akan dilaksanakan pemilihan Gubernur DKI Jakarta. 


Karena itu, Populi mulai mensimulasikan tingkat popularitas dan elektabilitas sejumlah tokoh yang dianggap mulai muncul. 

"Hampir 100 persen mengenal Ahok. Tapi angka ini menurun dibanding survei Maret, yaitu 96,6 persen," ujar Nona di Jakarta, Sabtu (12/12/2015). 

Sementara itu, secara berturut-turut, tokoh yang dianggap paling populer lainnya adalah Rano Karno (86 persen), Tantowi Yahya (68,2 persen), Ridwan Kamil (61,8 persen), dan Abraham Lunggana atau Lulung (59,5 persen).

Namun, untuk survei elektabilitas, Rano Karno maupun Tantowi Yahya yang menempati posisi tiga besar dalam hasil survei popularitas tak menempati posisi kedua dalam hasil survei elektabilitas. 

Dalam hasil survei elektabilitas, Ridwan Kamil menempati posisi kedua dengan 14,5 persen. Sementara Ahok masih menempati posisi pertama namun kali ini melambung jauh dengan angka survei 39 persen. 

"Masyarakat diberikan pertanyaan terbuka mengenai siapa tokoh yang akan dipilih untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta, 39 persen masyarakat mengatakan akan memilih Ahok," tutur Nona. 

Adapun di posisi ketiga adalah Tri Rismaharini dengan 7,2 persen, diikuti dengan Rano Karno (5,5 persen), Adhyaksa Dault (3,5 persen), dan Djarot Saiful Hidayat (2,5 persen). 

Nona menuturkan, masih ada pula kategori swing voters sebanyak 18 persen, yaitu masyarakat yang masih tidak tahu dengan pilihannya. 

"Yang menarik dari temuan ini, angka elektabilitas Ahok di pertanyaan terbuka melebihi angka swing voters. Ini menunjukkan bahwa Ahok sudah memiliki modal angka elektabilitas di pertaruhan Pilgub DKI 2017 mendatang," imbuh Nona. 

Survei Populi dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan 400 responden di enam wilayah DKI Jakarta, yaitu Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan Kepulauan Seribu yang dijalankan pada 1 hingga 7 Desember 2015 dengan proporsi gender 50:50.

Ini Anak Muda Terkaya di RI, Hartanya Rp 42,4 T


Ini Anak Muda Terkaya di RI, Hartanya Rp 42,4 T
Foto: Forbes
Jakarta -Ciliandra Fangiono, Direktur Eksekutif sekaligus Chief Operations Officer (COO) First Resources, perusahaan yang mengoperasikan perkebunan sawit seluas 190.000 hektare dan 12 pabrik minyak sawit ini, masih tercatat sebagai miliuner paling muda dalam jajaran 50 orang terkaya versi Forbes. 

Seperti dikutip dari Forbes, Selasa (8/12/2015), kekayaan pengusaha sawit berusia 39 tahun ini ditaksir mencapai US$ 3,1 miliar atau setara Rp 42,4 triliun dengan kurs Rp 13.700. 

Ciliandra Fangiono, untuk pertama kalinya masuk dalam daftar 40 orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes pada 2009. Selama enam tahun, belum ada triliuner yang lebih muda dari usianya bisa mengungguli kekayaannya. 

Saat Ciliandra pertama kali masuk jajaran 40 orang terkaya di Indonesia, kekayaannya ditaksir sebesar US$ 710 juta. 

Ciliandra menjalankan bisnis tersebut bersama saudara laki—lakinya yaitu Sigih dan ayahnya bernama Martias sejak 23 tahun lalu.

Bisnis keluarga pebisnis sawit ini dimulai dari ayahnya, Martias, pendiri First Resources Martias telah melepaskan keterlibatannya di perusahaan tersebut sejak tahun 2003. 

First Resources berencana menginvestasikan dana US$ 130 juta untuk perawatan kebun sawit dan peningkatan kapasitas pabrik penyulingan minyak sawit. Luas kebun sawit First Resources, perusahaan yang didirikan oleh ayahnya telah berkurang dari tahun 2009 tercatat seluas 247.000 hektar, tahun ini menjadi 170.000 hektare. 

First Resources memiliki anak perusahaan bernama PT Ciliandra Perkasa yang berfokus pada penanaman dan panen kelapa sawit. Perusahaan utamanya, Pertama Resources menangani pasca panen meliputi produksi minyak kelapa sawit dan minyak inti sawit untuk dijual ke pasar ekspor dan domestik.

(rrd/rrd) 

Jokowi Hapus Uang Pensiun TNI, Polri Dan PNS Karena Memberatkan APBN

054017900_1410788971-J2


FAKTAMEDIA.NET – Uang pensiun bagi PNS, TNI/Polri yang dialokasikan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) terus mengalami kenaikan setiap tahunnya. Pada 2012 saja, anggaran untuk pensiun PNS, TNI/Polri mencapai Rp69 triliun. Anggaran ini naik menjadi Rp74 triliun di 2013.
Selama ini, uang pensiun bagi PNS, TNI/Polri setiap tahun berasal dari potongan gaji PNS ditambah subsidi dari pemerintah. Tiap bulan, gaji PNS dipotong 10 persen, di antaranya 2 persen untuk Askes, 2,35 persen untuk tabungan hari tua dan 4,75 persen untuk pensiun.
Meskipun sudah tidak lagi aktif menjadi PNS atau pensiun, mereka masih menikmati uang negara yang dialokasikan tiap tahun dalam APBN. Pembayaran uang pensiun dengan metode pemotongan gaji dan subsidi dari pemerintah dikenal dengan sistem Pay As You Go.
Dengan disahkannya UU Aparatur Sipil Negara (ASN), pemerintah berencana mengubah mekanisme atau metode pemberian uang pensiun PNS dari Pay As You Go jadi Fully Funded. Aturan ini nantinya akan tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) sebagai turunan UU ASN yang saat ini masih dalam proses pembahasan. Namun dia mengaku tidak bisa menjelaskan lebih detail dengan alasan belum diputuskan secara resmi oleh Presiden Joko Widodo.
“Iya ini masih dalam pembahasan (mengubah ke Fully Funded), masih wacana dan saya belum bisa jelaskan,” ucap Kabiro Humas Badan kepegawaian Negara (BKN), Tumpak Hutabarat seperti dilansir merdeka.com di Jakarta, kemarin (17/3)
Belum semua PNS maupun pensiunan PNS, TNI/Polri memahami perbedaan kedua sistem ini. Dalam jurnal ini dijelaskan, sistem pembayaran pensiunan PNS dengan metode Pay As You Go dilakukan dua pihak baik negara maupun PNS itu sendiri. Dengan kata lain, uang pensiun yang diterima setiap bulan merupakan hasil tabungan PNS selama aktif bekerja ditambah kewajiban pemerintah membayarkan uang pensiun.

HEBOH! Foto Mobil Polisi Turunkan Gadis Seksi di Jalan Sepi

"Mungkin ini cuma nganterin orang yang tersesat dengan cuma-cuma atau nganterin cabe pulang pagi," timpal akun Bintang Satriani.

Sebuah foto mobil polisi yang tertangkap kamera saat sedang menurunkan seorang gadis berbusana h0t pants mengejutkan para pengguna media sosial. Bagaimana tidak, mobil jenis sedan tersebut memang sekilas persis mobil polisi resmi, dengan stiker polisi di belakang mobil, nomor telepon darurat dan tak lupa lampu sirine biru yang menempel di atap mobil.
Tidak dijelaskan dengan rinci di mana kejadian tersebut berlangsung, namun foto-foto tersebut memang memicu netizen untuk berspekulasi ke arah yang tabu. Foto tersebut mulai ramai dibagikan netizen saat salah satu akun Facebook mengunggahnya di grup jual beli di wilayah Yogyakarta pada Minggu (6/12). Sayangnya unggahan foto tersebut sudah dihapus dari grup karena dianggap tidak sesuai dengan standar yang berlaku dalam grup jual beli tersebut.
Terlepas foto itu merupakan polisi resmi atau bukan, foto-foto tersebut telah memicu perbincangan di grup-grup media sosial. Beberapa menyarankan untuk tidak terlalu jauh berspekulasi namun beberapa mengomentari foto tersebut dengan blak-blakan. Apakah ini ‎fake police car‬ yang menyaingin ‪‎fake taxi atau benar-benar aksi oknum polisi? Belum ada yang bisa menjelaskannya.

“Jangan kejauhan, baru liat foto saja sudah buat kesimpulan. Kita kan belum tau apa yang sebenarnya terjadi,” ujar akun Triadi Wiguna.
“Kalau tumpangan, kok berhentinya di tempat sepi. Harusnya di depan rumah atau paling tidak di depan gang gitu,” imbuh akun Hari Harianja mencurigai.
“Mungkin ini cuma nganterin orang yang tersesat dengan cuma-cuma atau nganterin cabe pulang pagi,” timpal akun Bintang Satriani.

TERBONGKARNYA MISTERI PESAWAT MH370 DAN MH17

Ringkasan ini tidak tersedia. Harap klik di sini untuk melihat postingan.